Al Quran sebagai Panduan Hidup Manusia



Adalah sudah menjadi suatu keharusan bagi kita umat Islam untuk melakukan pengkajian yang serius dan tak terputus dalam menggali pesan-pesan yang terkandung pada Al Qur’an, mengingat fungsinya sebagai petunjuk (huda), dalam bertindak (akhlak, praksis) dan berpikir (ilmu, teoritis), bagi umat manusia dalam mengarungi kehidupan. Kini Alhamdulillahi Rabbil’Aalamiin, kita telah diwariskan begitu banyak buku-buku penting mengenai Al Qur’an. Namun semangat para pendahulu (mufassir) dalam mengelaborasikan kandungan Al Qur’an tampaknya juga perlu diwarisi, atau lebih penting untuk dimiliki umat yang kemudian, karena inilah intinya
. Tak terbayangkan oleh kita bagaimana keadaan umat Islam tanpa adanya elan ini.
Rasulullah saw meninggal Al Qur’an kepada umatnya dengan susunan sebagaimana yang diajarkan malaikat Jibril as kepadanya. Dan kemudian, dalam perjalanan waktu terjadi penyempurnaan-penyempurnaan penulisan, tetapi dengan janji Allah bahwa Dia sendiri yang akan menjaganya (Qs. 15 : 9), sehingga kita tidak perlu menyangsikan keaslian Al Qur’an yang sampai ke tangan kita. Mungkin yang perlu kita khawatirkan adalah ketidak seriusan dan kedangkalan berpikir kita sebagai umat Islam untuk mengkaji dan mengkaji kembali Al Qur’an. Padahal sifat universal Al Qur’an membuatnya tetap relevan dikaji dari berbagai paradigm dan pendekatan, sampai kapanpun. Perlunya terus menggali kandungan Al Qur’an ini akan lebih tampak urgensinya bila mengingat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan manusia tentang ayat-ayat kauniah atau fenomena alam.
Dengan mendahulukan hidayah Allah dari ussaha-usaha yang telah Loekman Abdul Qahar Soemabrata (LAQS) sang penemu Paradigma Numerik Struktur Al Qur’an (PNSA) lakukan, Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin, sekarang mulai terkuaklah apa yang selama ini tersimpan dan tersembunyi dalam kandungan ilmu Al Qur’an namun masih terabaikan. Dan uraian di selanjutnya adalah sebagaian yang bida diutarakan, secara garis besar, aria pa-apa yang telah berhasil LAQS temukan.

      Alquran 18 baris

Al Qur’an 18 baris

Al Quran sebagai Panduan Hidup Manusia



Adalah sudah menjadi suatu keharusan bagi kita umat Islam untuk melakukan pengkajian yang serius dan tak terputus dalam menggali pesan-pesan yang terkandung pada Al Qur’an, mengingat fungsinya sebagai petunjuk (huda), dalam bertindak (akhlak, praksis) dan berpikir (ilmu, teoritis), bagi umat manusia dalam mengarungi kehidupan. Kini Alhamdulillahi Rabbil’Aalamiin, kita telah diwariskan begitu banyak buku-buku penting mengenai Al Qur’an. Namun semangat para pendahulu (mufassir) dalam mengelaborasikan kandungan Al Qur’an tampaknya juga perlu diwarisi, atau lebih penting untuk dimiliki umat yang kemudian, karena inilah intinya
. Tak terbayangkan oleh kita bagaimana keadaan umat Islam tanpa adanya elan ini.
Rasulullah saw meninggal Al Qur’an kepada umatnya dengan susunan sebagaimana yang diajarkan malaikat Jibril as kepadanya. Dan kemudian, dalam perjalanan waktu terjadi penyempurnaan-penyempurnaan penulisan, tetapi dengan janji Allah bahwa Dia sendiri yang akan menjaganya (Qs. 15 : 9), sehingga kita tidak perlu menyangsikan keaslian Al Qur’an yang sampai ke tangan kita. Mungkin yang perlu kita khawatirkan adalah ketidak seriusan dan kedangkalan berpikir kita sebagai umat Islam untuk mengkaji dan mengkaji kembali Al Qur’an. Padahal sifat universal Al Qur’an membuatnya tetap relevan dikaji dari berbagai paradigm dan pendekatan, sampai kapanpun. Perlunya terus menggali kandungan Al Qur’an ini akan lebih tampak urgensinya bila mengingat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan manusia tentang ayat-ayat kauniah atau fenomena alam.
Dengan mendahulukan hidayah Allah dari ussaha-usaha yang telah Loekman Abdul Qahar Soemabrata (LAQS) sang penemu Paradigma Numerik Struktur Al Qur’an (PNSA) lakukan, Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin, sekarang mulai terkuaklah apa yang selama ini tersimpan dan tersembunyi dalam kandungan ilmu Al Qur’an namun masih terabaikan. Dan uraian di selanjutnya adalah sebagaian yang bida diutarakan, secara garis besar, aria pa-apa yang telah berhasil LAQS temukan.
Al Qur’an 18 baris

Al Quran sebagai Panduan Hidup Manusia

Al Quran sebagai Panduan Hidup Manusia



Adalah sudah menjadi suatu keharusan bagi kita umat Islam untuk melakukan pengkajian yang serius dan tak terputus dalam menggali pesan-pesan yang terkandung pada Al Qur’an, mengingat fungsinya sebagai petunjuk (huda), dalam bertindak (akhlak, praksis) dan berpikir (ilmu, teoritis), bagi umat manusia dalam mengarungi kehidupan. Kini Alhamdulillahi Rabbil’Aalamiin, kita telah diwariskan begitu banyak buku-buku penting mengenai Al Qur’an. Namun semangat para pendahulu (mufassir) dalam mengelaborasikan kandungan Al Qur’an tampaknya juga perlu diwarisi, atau lebih penting untuk dimiliki umat yang kemudian, karena inilah intinya
. Tak terbayangkan oleh kita bagaimana keadaan umat Islam tanpa adanya elan ini.
Rasulullah saw meninggal Al Qur’an kepada umatnya dengan susunan sebagaimana yang diajarkan malaikat Jibril as kepadanya. Dan kemudian, dalam perjalanan waktu terjadi penyempurnaan-penyempurnaan penulisan, tetapi dengan janji Allah bahwa Dia sendiri yang akan menjaganya (Qs. 15 : 9), sehingga kita tidak perlu menyangsikan keaslian Al Qur’an yang sampai ke tangan kita. Mungkin yang perlu kita khawatirkan adalah ketidak seriusan dan kedangkalan berpikir kita sebagai umat Islam untuk mengkaji dan mengkaji kembali Al Qur’an. Padahal sifat universal Al Qur’an membuatnya tetap relevan dikaji dari berbagai paradigm dan pendekatan, sampai kapanpun. Perlunya terus menggali kandungan Al Qur’an ini akan lebih tampak urgensinya bila mengingat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan manusia tentang ayat-ayat kauniah atau fenomena alam.
Dengan mendahulukan hidayah Allah dari ussaha-usaha yang telah Loekman Abdul Qahar Soemabrata (LAQS) sang penemu Paradigma Numerik Struktur Al Qur’an (PNSA) lakukan, Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin, sekarang mulai terkuaklah apa yang selama ini tersimpan dan tersembunyi dalam kandungan ilmu Al Qur’an namun masih terabaikan. Dan uraian di selanjutnya adalah sebagaian yang bida diutarakan, secara garis besar, aria pa-apa yang telah berhasil LAQS temukan,